BOLMUT ][ CyberPers — Semangat literasi menggema di halaman SMAN 1 Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Rabu (23/4/2026), saat peringatan Hari Buku Sedunia digelar melalui tajuk “Menjahit Harapan, Merajut Masa Depan.”
Kegiatan yang dipimpin langsung Ketua Umum Persatuan Penulis dan Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Standius Bara Prima Lumbaa, S.I.Kom, menjadi momentum penguatan gerakan literasi sebagai fondasi pembangunan generasi masa depan.
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini tampil sebagai gerakan kolektif membangun kesadaran membaca dan menulis di tengah derasnya arus digitalisasi informasi. Di bawah kepemimpinan Bara Lumbaa, PPLSU menegaskan komitmennya menjadikan literasi bukan hanya budaya, tetapi kekuatan sosial untuk membentuk generasi cerdas, kritis, dan berkarakter.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena, kalangan akademisi, komunitas literasi, guru, pelajar, serta tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai elemen ini memperlihatkan sinergi antara pemerintah, organisasi, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pendidikan di Sulawesi Utara.
Dalam pidatonya, Bara Lumbaa menegaskan bahwa literasi hari ini tak lagi sebatas kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami, mengolah, dan menyaring informasi secara kritis.
“Kita hidup di era digital, ketika informasi begitu mudah diakses. Namun tanpa literasi yang kuat, masyarakat bisa tersesat di tengah banjir informasi, hoaks, dan disinformasi. Karena itu, membaca kritis dan menulis produktif adalah bekal penting menghadapi zaman,” tegas Bara Lumbaa.
Ia juga menekankan bahwa tema “Menjahit Harapan, Merajut Masa Depan” merupakan refleksi bahwa setiap buku yang dibaca dan setiap gagasan yang ditulis adalah benang-benang yang menyusun masa depan daerah.
Menurutnya, membangun tradisi literasi berarti menyiapkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga mampu memimpin perubahan.
Sementara itu, Bupati Sirajudin Lasena memberi apresiasi atas konsistensi PPLSU dalam menumbuhkan gerakan literasi di daerah. Ia menilai kepemimpinan Bara Lumbaa membawa energi baru bagi dunia pendidikan dan mampu menggerakkan anak muda menjadikan literasi sebagai gaya hidup yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Literasi adalah investasi peradaban. Ketika anak-anak muda mencintai membaca dan menulis, maka masa depan daerah ini sesungguhnya sedang dipersiapkan,” ujarnya.
Peringatan Hari Buku Sedunia di Bintauna pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial, melainkan simbol lahirnya optimisme baru—bahwa dari buku, gagasan, dan budaya membaca, masa depan Sulawesi Utara dapat terus dijahit dengan harapan dan dirajut menuju kemajuan. (zakha)













